Ketika Lagu Nadin Amizah Membuka Luka Lama Anak Tanpa Ayah

Penulis: Rini Azhari
Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:13:00 WIB

Nadin Amizah kembali menyentuh hati pendengarnya lewat album Laika, Yang Ditinggalkan yang dirilis pada Agustus lalu. Album ini terinspirasi dari kisah Laika, anjing jalanan Moskow yang menjadi makhluk hidup pertama yang mengorbit Bumi dalam misi Sputnik 2 pada 1957. Nadin memilih nama itu untuk menggambarkan sosok yang mendambakan kasih sayang yang tak pernah cukup, memohon cinta yang tak kunjung datang, hingga akhirnya berubah menjadi amarah.

Dalam album ini, tiga lagu mencuri perhatian: Reservasi Untuk Dua, Tamu Berwajah Itu, dan Amarah. Ketiganya memiliki benang merah yang kuat: pengalaman tumbuh tanpa sosok ayah, atau yang sering disebut fatherless. Nadin sendiri mengakui bahwa album ini menggambarkan fenomena tersebut di Indonesia. Ia menyoroti bagaimana banyak anak merasa ditinggalkan oleh ayah mereka, namun di sisi lain, anak justru sering disebut durhaka ketika menyuarakan luka itu.

Lagu Reservasi Untuk Dua menjadi salah satu yang paling viral. Liriknya yang berbunyi, “Dan jika neraka tempatku durhaka, kuyakin kau juga ku temu di sana”, seolah mewakili perasaan banyak orang. Album ini kemudian memicu gelombang cerita di media sosial. Banyak warganet membagikan pengalaman pribadi tentang ayah yang absen dalam pengasuhan.

Kami mewawancarai tiga pendengar setia Nadin yang memiliki pengalaman serupa. Mereka adalah Nabila, Flo, dan Lita. Berikut kisah mereka.

Nabila: Amarah yang Menjaga Ayah Tetap Hidup dalam Ingatan

Sejak kecil, Nabila menyaksikan pertengkaran orang tuanya hampir setiap hari. Hal-hal sepele bisa memicu keributan, seperti masakan yang tidak dimakan ayahnya. Ia sempat mengira pertengkaran adalah hal normal dalam pernikahan. Baru ketika kuliah, ia sadar bahwa keluarga teman-temannya jauh lebih harmonis. Puncaknya, pada 2025, ayahnya memilih tinggal di Bogor sementara Nabila dan ibunya kembali ke Jakarta. Mereka tidak bercerai, tetapi pisah rumah.

“Awalnya aku marah. Kenapa ayah seolah melepas tanggung jawab dan menyerahkan aku sepenuhnya ke mama?” kenang Nabila. Kini ia memahami bahwa hidup ayahnya lebih tenang tanpa ibunya, begitu pula sebaliknya. Pengalaman itu membuat Nabila sulit membayangkan standar suami yang baik, karena ia tidak pernah melihat contohnya.

Penelitian Apranda dan Ninawati (2025) menunjukkan bahwa fatherless berkaitan erat dengan ketakutan akan keintiman. Kehadiran figur ayah di awal kehidupan memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan di masa dewasa. Ketika album Laika rilis, Nabila merasa divalidasi. Lagu Amarah menjadi favoritnya. Lirik “Jangan ambil amarahku, hanya ini yang membuatmu masih hidup di benakku” sangat mewakili perasaannya. Baginya, amarah adalah cara agar ayahnya tetap ada dalam ingatan.

Flo: Jika Aku Durhaka, Papa Tak Ada Bedanya

Dari luar, keluarga Flo tampak harmonis. Namun, di balik itu, papanya tidak pernah hadir secara emosional. Semua beban pengasuhan jatuh ke pundak mamanya. Flo bahkan mengalami kekerasan fisik: dipukul dengan gesper, dikunci di kamar mandi gelap, dan mainannya dirusak hanya karena terlambat makan. Papa juga sering mengomentari tubuhnya, membuat Flo insecure hingga dewasa.

Yang lebih menyakitkan, papa tidak pernah membantu pekerjaan rumah tangga. Padahal mama juga bekerja. “Papa pernah bilang, untuk apa punya istri kalau tidak menyiapkan makan atau membereskan rumah,” ujar Flo. Ia menyadari bahwa pandangan itu berasal dari nilai patriarki yang mengakar. Akibatnya, mama menanggung beban ganda.

Zhao (2026) dalam artikel jurnalnya menyatakan bahwa pembagian kerja domestik dan norma gender yang patriarkis menciptakan ketimpangan peran dalam keluarga. Bahkan ketika perempuan juga bekerja, mereka tetap memikul pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Flo merasa lagu-lagu Nadin, terutama Tamu Berwajah Itu, menggambarkan kemarahan dan kekecewaannya. Ia berharap semakin banyak orang sadar bahwa fatherless bukan hanya soal ayah yang pergi, tetapi juga ayah yang hadir secara fisik namun absen secara emosional.

Lita: Merangkai Kembali Hati yang Terluka

Lita tumbuh dengan ayah yang jarang pulang. Setiap kali pulang, yang ada hanya pertengkaran dengan ibunya. Lita kecil selalu bersembunyi di kamar, menutup telinga, dan berdoa agar semuanya cepat selesai. Kini, Lita dewasa dengan rasa takut berkomitmen. Ia sulit percaya pada laki-laki.

“Aku takut mengulang kesalahan yang sama seperti ibuku,” ujarnya. Lagu Reservasi Untuk Dua membuat Lita menangis. Ia merasa lagu itu menemaninya berduka. Perlahan, Lita belajar memaafkan, bukan untuk ayahnya, tetapi untuk dirinya sendiri. Ia ingin lepas dari belenggu masa lalu.

Kisah Nabila, Flo, dan Lita hanyalah segelintir dari banyak perempuan yang mengalami fatherless. Album Nadin Amizah menjadi katalis untuk berbicara tentang luka yang selama ini dianggap tabu. Melalui musik, mereka menemukan keberanian untuk mengakui bahwa ketidakhadiran ayah meninggalkan jejak mendalam. Namun, seperti kata Nadin, amarah dan kesedihan bisa menjadi awal dari penyembuhan.

Bagi Anda yang merasakan hal serupa, tidak apa-apa untuk merasa marah, sedih, atau kecewa. Yang terpenting, jangan biarkan luka itu mengendalikan hidup Anda. Carilah dukungan, baik dari teman, keluarga, atau profesional. Ingatlah bahwa Anda berharga dan layak dicintai.

Reporter: Rini Azhari